NIKAH ITU BUTUH ALLAH BUKAN BUTUH MAPAN
Pernikahan merupakan sebuah moment terpenting dalam hidup karena dengan menikah hal yang sebelumnya haram seketika menjadi halal. Bayangin deh, yang dulunya pegangan tangan atau saling berpandangan aja dosa, kini berubah jadi pahala setelah menikah. Beberapa waktu lalu saat aku dengerin ceramah dari ustadz Hanan Attaki, da'i muda dengan sejuta pesona yang mampu memikat banyak kalangan, mengatakan bahwa saat kita menikah, memandang wajah pasangan dengan tersenyum sudah mendatangkan pahala loh. Ga main-main, pahalanya sama kaya ngerjain sholat sunnah dua rokaat. Kebayang kan gimana banyaknya pahala yang didapat kalo tiap hari kita (yang udah halal) saling berpandangan dalam sehari. eh tapi jangan terus berpandangan mulu sampe lupa nggak sholat. Jangan yaaa.... :)
Kenapa sih kita harus menikah?
Sebenarnya buatku menikah itu adalah pilihan. Kita tidak bisa mengintervensi orang lain untuk sesegera mungkin menikah kendatipun usia mereka sudah mendekati ambang batas yang diacu oleh masyarakat. loh kok nikah itu pilihan? memang gak wajib ? Well, untuk aku pribadi nikah itu adalah pilihan. Konsekuensi dari pilihan itu ya kita sendiri yang tanggung. Bukankah Tuhan adalah hakim di atas hakim. jadi apapun keputusan yang kita pilih, sudah pasti akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan kita kelak. Kenapa menikah adalah sebuah pilihan. Jawabnya tentu karena setiap orang punya prioritas sendiri dalam hidupnya. Beberapa orang bisa jadi ingin fokus dengan karirnya. Fokus dengan karir tidak berarti erat dengan hedonisme. Karena saya sendiri memiliki rekan yang sudah siap secara lahir batin untuk menikah namun ada kendala dari pihak keluarga mempelai laki-laki. Orang tua dari pihak laki-laki sempat alot memberikan restu dengan alasan si mempelai laki-laki masih memiliki banyak adik yang butuh sokongan ekonomi. Selain itu orang tua dari pihak laki-laki juga tergolong dalam ekonomi menengah.
Selama ini terhembus legitimasi bahwa surga laki-laki ada di bawah telapak kaki ibunya. Nah kalo si ibu ingin anak laki-lakinya terus menerus bekerja untuk menghidupi dirinya dan anak-anaknya yang lain bagaimana donk. Bukankah saat laki-laki tidak patuh pada ibunya dia akan durhaka. Ini dilematis dan terkesan drama but it shits happen guys. aku sempet emosi juga ngelihat orang tua kaya gini. Kurang banget rasa tawakal dan Qona'ahnya sama yang maha pencipta. Logikanya sang anak dilarang menikah karena ortu dan adik-adiknya belum mapan. Seolah si kakak ini dijadikan kuda-kuda pekerja yang harus terus menerus memenuhi kebutuhan pemiliknya. Memang surga di telapak kaki Ibu, lalu apakah dengan dogma ini lantas membuat ibu merasa mutlak atas hidup anaknya tanpa pernah dipahaminya bahwa anak adalah titipan semata dari Allah. lalu apa si ibu pikir anak laki-laki ibu tidak boleh merasa terdazilimi apalgi sang ayah ( dari calon mempelai pria) belum tua, masih mampu bekerja, bukankah beliau lebih berhak menanggung finansial keluarga secara mutlak dibandingkan anak lelakinya. Laki-laki memang wajib menafkahi ibunya, tapi sebatas kemampuannya tanpa ia merasa terbebani.
Ini pesan gaes buat kalian semua yang akan jadi ibu, inget baik-baik. Anak itu amanah dari Allah, jangan karena kau melahirkan dia lantas kau jadi punya alasan untuk mengatur semua hidupnya sesuai kehendakmu. Kebanyakan orang tua model begini itu yang biasanya ga punya pondasi agama yang kuat. Salah sangka mulu sama Tuhan. Suudzon mulu sama Tuhan kalo hidupnya akan terussss kekurangan. Bahkan dia tahan anaknya menyempurnakan separuh agama Allah melalui pernikahan hanya karena dia takut kekurangan secara finansial. Lalu, dibalik semua kenjlimetan itu pertanyaan yang terngiang di kepalaku cuman satu. Terus kira-kira kapan si Ibu ngasih izin anaknya nikah ? tunggu ekonomi keluarganya membaik? tunggu adik-adiknya mapan. Hellooo berati tunggu adiknya selesai kuliah dan bekerja total 8 tahunan donk dan dia mungkin akan bisa menikah di umur 35 tahun. Kejadian kaya gini tuh ada banget, ngga cuman di sinetron, itu makanya kenapa aku bilang nikah itu pilihan. Karena kadang orang tidak segera menikah karena dia bingung antara menuruti mau ibunya atau menikahi pujaan hatinya dengan tujuan menyempurnakan agamanya.
Sebulan setelah restu yang alot itu, kisah ini berakhir dengan batalnya pernikahan antara sahabatku dengan lelaki impiannya. Ya...karena pernikahan itu adalah pilihan, laki-laki itu lebih memilih membahagiakan ibunya dengan memenuhi semua kebutuhan keluarga dan membiayai sekolah dan kuliah adik-adiknya. Sementara sahabatku, dia ihklas menerima nasibnya. Dia terima pinangan dari laki-laki lain yang sebenarnya jauh dari kriteranya sebagai suami idaman. Laki-laki itu hanya berasal dari keluarga sangat sederhana yang juga memiliki banyak adik. Yang membedakan laki-laki ini dengan calon suaminya yang dulu adalah spirit agamanya. Laki-laki ini berasal dari keluarga yang benar-benar Qona'ah dan percaya pada alur Allah. Begitu juga dengan ibunda laki-laki ini, begitu cintanya dia pada sahabatku hingga diberikannya satu-satunya cincin dari suaminya sebagai mas kawin bagi anaknya seraya berbisik "jangan takut miskin karena menikah, sungguh Allah yang akan mencukupi hambanya". Kata-kata ini sukses membuat sahabatku menerima dengan lega pinangan dan memutuskan menikah beberapa minggu setelahnya. Dan tahukah kalian...di perjumpaan terakhir kami, dengan malu-malu sahabatku berkata bahwa ia lebih dulu jatuh cinta pada kebaikan ibu mertuanya daripada pada laki-laki yang saat ini resmi jadi suaminya. Nah sampai di sini, aku rasa kalian mulai mengerti bahwa pernikahan itu pilihan. Sebuah pilihan yang setali tiga uang dengan konsekuensinya. Pilihan yang suatu saat kau akan ditanya oleh sang maha pencipta.
Kisah sahabatku ini pada akhirnya juga menginspirasi laki-laki yang hampir dua minggu ini sudah menjadi kekasih halalku. Dia percaya bahwa saat kita menjalankan apapun yang dicintai Allah, maka Allah yang akan mengatur sisanya. Kekasih halalku percaya bahwa tangan Allah akan terus bekerja selama kita berada pada jalur yang diridhoi oleh-Nya. Jangan takut miskin karena menikah. Allah pasti akan memampukan hambanya yang tidak pernah putus asa dengan cara-cara tidak terduga.
Sengaja kutambahkan foto akad nikahku supaya kalian makin baper mengerti bahwa menikah tidak harus menunggu mapan. Oh yaa... di postingan selanjutnya aku berencana mencantumkan rincian dana yang dibutuhkan dalam pernikahan kami siapa tahu ini bisa jadi inspirasi juga untuk kalian. Budget yang kami butuhkan dalam pernikahan tidak besar. Karena kami berdua berkomitmen untuk nikah pakai hasil keringat sendiri ( bukan duit orang tua). Jadi kami benar-benar merinci setiap detailnya karena kami sadar masih banyak kebutuhan yang harus kami penuhi di Jakarta nanti. Tempat kami merantau dan hidup mandiri.

Komentar
Posting Komentar